Trending

#ane

Latest posts tagged with #ane on Bluesky

Latest Top
Trending

Posts tagged #ane

New «That Night» transcript!

s01e06 - Ane

#TV #ThatNight #Season1 #finale #Ane #episode #script #transcript #TVTranscripts #TvT

tvshowtranscripts.ourboard.org/viewforum.ph...

0 0 0 0
Post image

Been a while!

Long story as to why. I suggest going to read my FA journal on the matter if you’re curious. It’s the first entry that *isnt* advertising an art stream. ;)

In the meantime, here’s a rat girl mage!

Commission from a few years back at #ANE Really happy to finally have it done. :)

6 1 0 0
Post image Post image

Long time no Mephistoฅ⁠^⁠•⁠ﻌ⁠•⁠^⁠ฅ (these are from literal months ago, but please take 'em all the same.<3)

#blueexorcist #aonoexorcist #aoex #ane #mephistopheles #mephisto #samael #selfship #yumeship #aoex:alternavvelt #art #traditionalart

4 0 0 0
Two partially suited Fursuiters posing with one another. The suiter on the right is taller with an adorable polar bear head and a green accent over his left eye and ears. He is wearing a hoodie that looks like a vibrant blue galaxy of stars. He has his arm around Ally the feline, who has pink heart shaped frames around their half-closed eyes. Their right hand is up against their muzzle with their tongue blepped. They have purple hair and a gorgeous pink hoodie with white cloud patterns on it.

Two partially suited Fursuiters posing with one another. The suiter on the right is taller with an adorable polar bear head and a green accent over his left eye and ears. He is wearing a hoodie that looks like a vibrant blue galaxy of stars. He has his arm around Ally the feline, who has pink heart shaped frames around their half-closed eyes. Their right hand is up against their muzzle with their tongue blepped. They have purple hair and a gorgeous pink hoodie with white cloud patterns on it.

Two partially suited Fursuiters posing with one another. One suiter is holding the other. The person holding is an adorable polar bear head and a green accent over his left eye and ears. He is holding Ally the feline, who has pink heart shaped frames around their half-closed eyes. Their right hand is out in the air, and their tongue blepped happily. They have purple hair and a gorgeous pink hoodie with white cloud patterns on it. They are also decked out in matching pink pants and a nice pair of white sneakers. Fursuiters are visible in the background.

Two partially suited Fursuiters posing with one another. One suiter is holding the other. The person holding is an adorable polar bear head and a green accent over his left eye and ears. He is holding Ally the feline, who has pink heart shaped frames around their half-closed eyes. Their right hand is out in the air, and their tongue blepped happily. They have purple hair and a gorgeous pink hoodie with white cloud patterns on it. They are also decked out in matching pink pants and a nice pair of white sneakers. Fursuiters are visible in the background.

Two friends from afar meeting in furson for the first time at #ANE! Happy #FursuitFriday you cute fuzzybutts! #Furry #Fursuit #photography #style #stronk #cute #friendshipISmagic

5 0 1 0
Post image Post image Post image Post image

Just in time for Fursuit Friday! Here are the photos taken at the final of Anthro New England 2026.

Con: @ane.boston
Photo Credit: @anephototeam.bsky.social
#fursuitfriday #ANE

6 1 0 0
Preview
Someone Reverse-Engineered Apple's Neural Engine and Trained a Model on It A developer cracked Apple's undocumented ANE private APIs, measured its real throughput at 19 TFLOPS FP16 (not the marketed 38 TOPS), and trained a 109M-parameter transformer on hardware Apple designed exclusively for inference.

Someone Reverse-Engineered Apple's Neural Engine and Trained a Model on It

awesomeagents.ai/news/apple-neural-engine...

#Apple #NeuralEngine #Ane

0 0 0 0
Post image

After 3 years, I’m very happy to share my postdoc work which has been published in @natcomms.nature.com 🎉

doi.org/10.1038/s414...

✨ Thank you @arhelnathalie.bsky.social for your guidance and support !

#influenza #NPC #RANBP2 #Nup358 #Inflammation #ANE #AcuteNecrotizingEncephalopathy
#virology

9 2 2 2
Post image Post image Post image Post image

Eeeeeee so excited that the digital copies from ANE photo room are up!!! @anephototeam.bsky.social was such an amazing group of artists and they killed it!! #fursuit #deer #pup #possum #ANE #furry

8 1 2 0
Preview
Kanojo no ane wa 2-shu-me no kanojo V1 Interlude 1 **Penerjemah:** Taksaka **Proffreader:** Manahan **Interlude 1** Pasti, awalnya hanya perselisihan kecil yang sepele. Fakta bahwa dia tidak bisa mengatakan bahwa dia tidak suka kue jahe. Dan fakta bahwa aku tidak menyadarinya. Hanya itu, sesederhana itu. Keretakan kecil itu perlahan namun pasti, semakin lama semakin membesar seiring berjalannya waktu. Baik aku maupun Ryuuichi-kun tidak menyadarinya saat itu. Dulu, aku hanya mabuk kepayang oleh cinta pertamaku, hingga aku tidak benar-benar memperhatikan Ryuuichi-kun. "Mungkin, kita tidak akan pernah berhasil jika terus begini. Mari kita akhiri di sini." Hari itu, saat dia mengatakannya, pikiranku menjadi kosong. Saat itu, Ryuuichi-kun meminta maaf atas banyak hal. Tentang seorang gadis yang ahli dalam bidang astronomi yang ia temui saat liburan musim panas SD dan mereka melihat gerhana bulan bersama—dia tidak bisa melupakan gadis itu. Tentang bagaimana dia menggunakan tempat perkemahan di mana ia bertemu gadis itu untuk kegiatan klub astronomi. Dan tentang bagaimana ia mengejar komet baru demi menepati janji dengan gadis itu. Apa yang kukatakan sebagai balasan? Apakah aku menerima perpisahan itu dengan tulus, ataukah aku menolaknya secara emosional? Aku bahkan tidak ingat. Ingatanku baru menjadi jelas saat perjalanan pulang, ketika aku berjalan sambil menatap langit dengan tatapan kosong. Ryuuichi-kun pernah memberitahuku sebelumnya bahwa hari ini ada bintang spesial yang akan mendekati Bumi. Apophis. Nama dewa kejahatan dalam mitologi Mesir yang diberikan kepada asteroid itu. Katanya, ia akan melintasi posisi yang sangat dekat dengan Bumi. Secara teknis, asteroid itu tidak bisa diamati dari Jepang, namun aku berpikir mungkin jika aku memohon pada bintang yang istimewa ini, permintaanku akan dikabulkan. Karena aku berjalan sambil memikirkan bintang yang berada 30.000 kilometer jauhnya dan berharap pada dongeng semacam itu, aku jadi abai dengan apa yang ada di depan mataku. Tanpa sadar, langit dan bumi terjungkir balik, dan langit terbentang tepat di bawahku. Barulah setelah itu terjadi, aku menyadari bahwa tubuhku telah terpental oleh hantaman kuat dan sedang melayang di udara. Mobil? Truk? Melanggar lampu merah? Ataukah aku yang melanggarnya? Di tengah pikiran yang terasa seperti milik orang lain itu, di pandanganku yang menatap kosong ke langit, aku merasa seolah melihat jejak lintasan bintang. Mungkin itu hanya halusinasi, tapi meski begitu, aku memohon pada bintang itu seolah sedang berpegangan pada harapan terakhir. "Aku ingin mengulanginya sekali lagi." Setelah itu, jiwaku mungkin tergulung kembali hingga ke masa sel telur yang baru dibuahi. Namun, di sana sudah ada diriku yang dulu. Sel telur yang dihinggapi oleh dua jiwa itu tidak bisa mempertahankan bentuk aslinya dan terbelah menjadi dua; yang satu menjadi Asada Mihare, dan yang lainnya menjadi aku yang sekarang, Asada Sayuki. Demikianlah, aku terlahir kembali, dan kehidupan keduaku pun dimulai. Previous Chapter | ToC | Related Posts * * * *

Kanojo no ane wa 2-shu-me no kanojo V1 Interlude 1 Penerjemah: Taksaka Proffreader: Manahan Interlude 1 Pasti, awalnya hanya perselisihan kecil yang sepele. Fakta bahwa dia tidak bisa mengatakan...

#Kanojo #no #ane #wa #2-shu-me #no #kanojo

Origin | Interest | Match

0 0 0 0
Preview
Kanojo no ane wa 2-shu-me no kanojo V1 Interlude 1 **Penerjemah:** Taksaka **Proffreader:** Manahan **Interlude 1** Pasti, awalnya hanya perselisihan kecil yang sepele. Fakta bahwa dia tidak bisa mengatakan bahwa dia tidak suka kue jahe. Dan fakta bahwa aku tidak menyadarinya. Hanya itu, sesederhana itu. Keretakan kecil itu perlahan namun pasti, semakin lama semakin membesar seiring berjalannya waktu. Baik aku maupun Ryuuichi-kun tidak menyadarinya saat itu. Dulu, aku hanya mabuk kepayang oleh cinta pertamaku, hingga aku tidak benar-benar memperhatikan Ryuuichi-kun. "Mungkin, kita tidak akan pernah berhasil jika terus begini. Mari kita akhiri di sini." Hari itu, saat dia mengatakannya, pikiranku menjadi kosong. Saat itu, Ryuuichi-kun meminta maaf atas banyak hal. Tentang seorang gadis yang ahli dalam bidang astronomi yang ia temui saat liburan musim panas SD dan mereka melihat gerhana bulan bersama—dia tidak bisa melupakan gadis itu. Tentang bagaimana dia menggunakan tempat perkemahan di mana ia bertemu gadis itu untuk kegiatan klub astronomi. Dan tentang bagaimana ia mengejar komet baru demi menepati janji dengan gadis itu. Apa yang kukatakan sebagai balasan? Apakah aku menerima perpisahan itu dengan tulus, ataukah aku menolaknya secara emosional? Aku bahkan tidak ingat. Ingatanku baru menjadi jelas saat perjalanan pulang, ketika aku berjalan sambil menatap langit dengan tatapan kosong. Ryuuichi-kun pernah memberitahuku sebelumnya bahwa hari ini ada bintang spesial yang akan mendekati Bumi. Apophis. Nama dewa kejahatan dalam mitologi Mesir yang diberikan kepada asteroid itu. Katanya, ia akan melintasi posisi yang sangat dekat dengan Bumi. Secara teknis, asteroid itu tidak bisa diamati dari Jepang, namun aku berpikir mungkin jika aku memohon pada bintang yang istimewa ini, permintaanku akan dikabulkan. Karena aku berjalan sambil memikirkan bintang yang berada 30.000 kilometer jauhnya dan berharap pada dongeng semacam itu, aku jadi abai dengan apa yang ada di depan mataku. Tanpa sadar, langit dan bumi terjungkir balik, dan langit terbentang tepat di bawahku. Barulah setelah itu terjadi, aku menyadari bahwa tubuhku telah terpental oleh hantaman kuat dan sedang melayang di udara. Mobil? Truk? Melanggar lampu merah? Ataukah aku yang melanggarnya? Di tengah pikiran yang terasa seperti milik orang lain itu, di pandanganku yang menatap kosong ke langit, aku merasa seolah melihat jejak lintasan bintang. Mungkin itu hanya halusinasi, tapi meski begitu, aku memohon pada bintang itu seolah sedang berpegangan pada harapan terakhir. "Aku ingin mengulanginya sekali lagi." Setelah itu, jiwaku mungkin tergulung kembali hingga ke masa sel telur yang baru dibuahi. Namun, di sana sudah ada diriku yang dulu. Sel telur yang dihinggapi oleh dua jiwa itu tidak bisa mempertahankan bentuk aslinya dan terbelah menjadi dua; yang satu menjadi Asada Mihare, dan yang lainnya menjadi aku yang sekarang, Asada Sayuki. Demikianlah, aku terlahir kembali, dan kehidupan keduaku pun dimulai. Previous Chapter | ToC | Related Posts * * * *

Kanojo no ane wa 2-shu-me no kanojo V1 Interlude 1 Penerjemah: Taksaka Proffreader: Manahan Interlude 1 Pasti, awalnya hanya perselisihan kecil yang sepele. Fakta bahwa dia tidak bisa mengatakan...

#Kanojo #no #ane #wa #2-shu-me #no #kanojo

Origin | Interest | Match

0 0 0 0
Preview
Kanojo no ane wa 2-shu-me no kanojo V1 Chapter 1 **Penerjemah:** Taksaka **Proffreader:** Manahan **Chapter 1** **Tempat yang Lebih Dekat Sekaligus Lebih Jauh dari Bulan** 1 Neil Armstrong, komandan Apollo 11 yang menjadi manusia pertama yang menapakkan kaki di bulan, pasti merasakan hal yang sama seperti ini. Kaki aku pun gemetar karena gugup dan bersemangat saat hendak melangkah ke dunia yang tidak dikenal. Satu langkah ini mungkin langkah kecil bagi umat manusia, tapi bagi aku, ini adalah langkah yang terlampau besar. "Lagi ngapain, sih? Buruan masuk." Di tempat tujuanku, Asada Mihare yang mengenakan seragam sekolah seperti biasa menatapku dengan wajah heran. Tak lama kemudian, dia menarik lenganku dengan paksa sambil berucap, "Sini." "Eh, tunggu!" Aku ditarik dengan kuat. Waktu yang kuhabiskan untuk bimbang tadi terasa konyol karena dalam sekejap, aku sudah melangkahkan kaki ke dalam pintu masuk apartemen tempat Mihare tinggal. "Ayo, naik, naik. Aku buatkan kopi sekarang. Mungkin nggak bakal sesuai ekspektasimu kayak di kafe tadi, jadi maaf ya." Setelah melepas sepatu loafer-nya di pintu masuk, Mihare berlari kecil ke bagian dalam. Kuncir kuda pendeknya yang berwarna pirang keabu-abuan memantul naik-turun seperti ekor anjing. Sebenarnya, hari ini aku berencana menghabiskan waktu makan hidangan manis bersama Mihare di sebuah kafe yang baru saja buka. Namun, ketika kami tiba di kafe sepulang sekolah, kami hanya bisa mematung di depan papan bertuliskan "Tutup Hari Ini" yang tergantung di pintu. Bagiku, tidak masalah jika kami langsung pulang masing-masing, tapi Mihare mengajakku dengan berkata, "Rumahku dekat sini kok, mampir dulu aja buat ganti suasana," dan begitulah akhirnya aku berakhir di sini. Kediaman Mihare ternyata adalah apartemen yang sangat mewah. Di lantai satu ada lounge, dan aku sempat terkejut melihat Onee-san dengan jabatan mentereng bernama "Resepsionis" yang berjaga di sana. "Sini, sini." Mihare memberi isyarat tangan dan membimbingku ke sofa besar di ruang tamu. "Tunggu di sini ya. Aku siapin kopi, sama kue kering buat camilannya." "Ah, nggak usah repot-repot." Mendengar jawabanku, Mihare menunjukkan wajah curiga. "Kenapa dari tadi kamu kaku banget kayak kucing yang baru dipindah rumah?" "Aku kaget karena ternyata rumahmu jauh lebih kaya dari yang kubayangkan. Ya, dari dulu aku sudah merasa kalau kamu kayaknya orang berada, sih." "Eh, emangnya aura orang kayanya sebegitu kelihatan?" "Setidaknya aku mulai sadar sejak kita mulai pacaran. Meskipun baju atau tasmu kelihatan biasa, tapi barang-barang kecil yang kamu pakai sehari-hari kayak dompet atau saputangan itu kelihatannya barang mahal. Rasanya kayak tipe orang kaya asli yang punya selera bagus tapi nggak suka pamer." "Wah, hebat. Seperti yang diharapkan dari Ketua Klub Astronomi. Kemampuan observasimu di atas rata-rata ya." Setelah memujiku, bahu Mihare merosot lemas. "Tapi ternyata ketahuan ya. Padahal aku sengaja menyembunyikannya karena nggak mau kelihatan sombong." "Bukannya malah sengaja menyembunyikannya itu yang terasa lebih nggak enak?" "Hmm, gitu ya? Kalau gitu, mulai sekarang mending aku ketawa 'Ohoho' aja biar aura Ojou-sama aslinya keluar?" "Lakuin aja, lakuin." "Tapi emangnya Ojou-sama asli ketawanya kayak gitu?" "Mana aku tahu, kan aku nggak kenal Ojou-sama lain selain kamu." "Hmm, jalan menuju 'Ojou-sama Sejati' ternyata terjal ya. Ya sudah, aku buatkan kopi dulu." Setelah mencapai kesimpulan yang tidak jelas itu, Mihare berjalan menuju dapur. Ditinggal sendirian di ruang tamu yang sangat luas, aku pun duduk di sofa untuk menunggu Mihare. Karena ini rumah orang lain, apalagi rumah pacar, aku merasa semakin tidak tenang. Saat aku menoleh ke sana kemari dengan gelisah, tiba-tiba sepasang tangan terjulur dari kedua sisi pandanganku dan langsung memeluk bahuku. "...Selamat datang di rumah." Suara yang dibisikkan di telingaku itu terasa dingin seperti hujan es, namun hembusan napas yang membelai tengkukku memiliki kehangatan layaknya suhu tubuh manusia. M-Mihare? Bukannya ini terlalu berani meski di rumah sendiri? Di bagian belakang kepalaku, aku merasakan sesuatu yang lembut menempel. Sesuatu yang lebih empuk daripada sofa yang kududuki, sebuah sensasi yang rasanya bisa melumerkan otak. Mungkinkah ini... Jantungku berdebar kencang karena harapan dan kegembiraan, aku bahkan seolah mencium aroma manis yang membuat kesadaranku mulai kabur. Pada saat itu, dari kejauhan, aku mendengar suara Mihare. "Maaf ya lama, Ryuuichi-kun... Eh, Onee-chan lagi ngapain?!" Hah? Onee-chan? Seketika itu juga, kedua lengan yang memelukku terlepas, dan kehangatan yang menyelimuti seluruh tubuhku pun menghilang. Aku menoleh dan akhirnya melihat sosok lengkap orang yang ada di belakangku. Ternyata bukan Mihare. Dia gadis yang tidak kukenal, tapi mengenakan seragam sekolah yang sama dengan kami. Rambut panjang berwarna cokelat gelapnya diikat longgar dengan ikat rambut merah, menjuntai ke depan bahu. Tekstur rambutnya tampak sangat lembut dan bervolume. Ekspresi wajahnya terlihat dewasa dan tenang. Sorot matanya yang turun memberikan kesan lembut, memancarkan kehangatan yang menenangkan seperti sinar matahari di musim dingin. Dan yang paling menonjol, pandanganku tanpa sadar tertarik pada dadanya yang sangat berisi, jauh melampaui ukuran Mihare. Mungkinkah bagian belakang kepalaku tadi terjepit di antara tonjolan yang luar biasa itu? Aku menyesal karena tidak mencamkan sensasi itu lebih dalam di ingatan, tapi semuanya sudah terlambat. "Eh, ternyata bukan Mihare ya? Maaf ya. Aku kira adikku tadi." Gadis misterius itu meminta maaf sambil menangkupkan kedua tangannya, memancarkan aura yang lembut. "A-ah, tidak apa-apa." "Kamu Shibukawa Ryuuichi-kun, kan? Aku Sayuki, kakaknya Mihare. Salam kenal ya." Ternyata Mihare punya kakak perempuan. Selama ini dia tidak pernah menceritakannya, jadi aku sama sekali tidak tahu. "...Salam kenal juga." Sayuki-san perlahan mengulurkan tangannya, jadi secara refleks aku membalas jabat tangannya. Mungkin dia tipe orang yang mudah kedinginan; tangannya yang lembap dan dingin perlahan menyerap suhu tubuhku. Apa rasanya akan seperti ini juga kalau aku bergandengan tangan dengan Mihare? Atau sensasinya akan sangat berbeda? Dari tangan sang kakak, aku malah jadi membayangkan sensasi tangan Mihare yang belum pernah kugandeng sama sekali. "Padahal tadi bilangnya ada tugas OSIS, tapi ternyata sudah pulang ya?" Mihare, yang membawa nampan berisi kopi dan kue kering, menyela di antara aku dan Sayuki-san. "Iya, harusnya sih begitu. Tapi karena pekerjaannya beres lebih cepat dari dugaan, jadi aku pulang." "Heh, Sayuki-san ternyata anggota OSIS di sekolah kita ya." "Ahaha, sebenarnya iya. Aku beberapa kali melihat Ryuuichi-kun saat kamu datang ke ruang OSIS, tapi apa kamu... nggak ingat ya?" ......Nggak ingat. "Nggak bisa, Onee-chan. Ryuuichi-kun itu kalau sudah nggak tertarik pada sesuatu, hal itu bakal benar-benar hilang dari jarak pandangnya." "Ugh, maaf. Aku jarang berinteraksi dengan kakak kelas tingkat 2 atau 3, jadi aku sulit mengingat wajah dan nama..." "......" Begitu aku melontarkan alasan itu, aku merasakan suasana tiba-tiba menjadi dingin. Apa aku salah bicara? Sayuki-san menggaruk pipinya dengan canggung. "Anu... aku ini satu angkatan kelas 1 dengan kalian, lho." "Eh, tapi tadi katanya 'Onee-chan'?" Mihare menjawab pertanyaanku. "Kami ini kembar." Mendengar itu, aku kembali membandingkan mereka berdua. Saat mereka berdiri berdampingan, perbedaannya justru semakin mencolok. Tinggi badan, posisi pinggang, panjang kaki, hingga lekuk tubuh. Rasanya lebih sulit mencari persamaan di antara mereka. "Nah, kan. Keluar deh tatapan itu." Ujar Mihare ketus saat melihatku terdiam. "Pasti mikir nggak mirip, kan? Iya deh, kami memang kembar yang nggak bisa pakai trik tukar identitas khas cerita misteri." "Ah, tapi aku dengar kalau kembar fraternal, meski kembar, genetiknya berbeda jadi perbedaannya bisa seperti kakak-adik biasa..." "Kami ini kembar identik." "Apaaa?!" Itu di luar dugaan. Aku buru-buru menundukkan kepala. "Maafkan aku! Dengan tulus aku meminta maaf dan menarik kembali ucapanku tadi!" Sepertinya sedari tadi aku sedang menari tap dance di atas ladang ranjau ketidaksopanan. Mungkin karena tidak tega melihatku kesulitan, Sayuki-san tertawa kecil dan membantuku. "Sudah, sudah. Aku sudah terbiasa membuat orang kaget, jadi jangan dipikirkan. Sekarang memang begini, tapi dulu saking miripnya, orang tua kami pun sering salah panggil. Sekali lagi, namaku Asada Sayuki." "Ah, aku—" Aku hendak memperkenalkan diri dengan benar, tapi Sayuki-san mendahuluiku. "Nggak apa-apa, aku sudah tahu banyak tentang Ryuuichi-kun. Kelas 1-1 sama dengan Mihare, dan meski masih kelas 1, kamu sudah jadi Ketua Klub Astronomi. Begitu kakak kelas 3 pensiun untuk ujian, kamu jadi satu-satunya anggota klub, kan?" "Iya, begitulah." "Lalu, supaya klub nggak dibubarkan karena kurang anggota, kamu buka pendaftaran dan berhasil mengajak Mihare, sampai akhirnya kalian menjalankan klub bersama sekarang." "Eh, emangnya aku cerita sedetail itu ya?" Melihat Mihare yang memiringkan kepala keheranan, Sayuki-san memberikan senyum yang sedikit bangga. "Di OSIS itu banyak informasi yang masuk. Itu satu-satunya keuntungan melakukan pekerjaan serabutan yang membosankan dan merepotkan itu." Sepertinya dia tidak masuk OSIS karena keinginan sendiri. Untuk kelas 1, biasanya bukan lewat pemilihan tapi karena direkomendasikan siswa lain atau guru, jadi dia pasti menerimanya karena terpaksa oleh keadaan sekitar. "Dan yang paling penting, fakta bahwa kamu pacarnya Mihare, tentu saja aku tahu." "Ugh." "Ugh." Wajah Mihare pun memerah. "2 bulan lalu setelah pengamatan rutin klub astronomi selesai, Mihare yang menyatakan perasaan duluan, kan? Dia bilang, 'Mungkin sekarang Ryuuichi-kun cuma tertarik pada bintang, tapi ke depannya aku ingin kamu mengenalku juga, jadi tolong pacaran denganku'." Tepat sasaran, kata demi kata. "Tunggu, tunggu, tunggu! Kenapa Onee-chan tahu?! Aku nggak cerita sampai bagian situ!" "Fufu, kenapa ya?" Sayuki-san yang tampak menikmati kepanikan adiknya, tiba-tiba menoleh ke arahku. "Nee, Ryuuichi-kun, ada foto yang ingin kuperlihatkan, bagaimana menurutmu?" "Foto?" "Iya, apa Mihare belum cerita?" Saat aku bertanya lewat tatapan mata pada Mihare, dia membuang muka. "......N-nggak usah diperlihatkan juga nggak apa-apa, kan." "Tapi kalau Ryuuichi-kun, aku yakin dia pasti tertarik." Jika bicara soal kejadian di rumah pacar, mungkin dia ingin menunjukkan album foto lama. "Ayo, ke sini. Kamu pasti suka." Begitu saja, tanganku ditarik oleh Sayuki-san dan aku dibawa keluar dari ruang tamu. "Tu-tunggu dulu!" Mihare buru-buru mengikuti dari belakang. "Maaf ya kalau agak berantakan." Pintu yang dibuka Sayuki-san dengan malu-malu justru menampakkan ruangan yang tertata sangat rapi, berbanding terbalik dengan ucapannya. Furniturnya serba monoton, menciptakan kesan interior yang simpel namun modern—sangat cocok dengan citra Sayuki-san. Begitu masuk, aroma terapi yang nyaman langsung menyapa indra penciumanku. "Nggak kok, ini rapi banget." Lalu, di dalam kamar Sayuki-san, mataku tertuju pada sebuah poster yang tertempel di dinding. Itu adalah foto Tokyo Skytree. Tapi bukan hanya itu. Tepat di atas Tokyo Skytree, ada objek berbentuk cincin yang bersinar. Tentu saja itu bukan cincin sungguhan. Aku langsung mengenalinya sebagai Gerhana Matahari Cincin. Fenomena di mana Bulan berada di antara Bumi dan Matahari, sehingga cahaya matahari terhalang sebagian dan terlihat seperti cincin. Mengingat foto itu diambil bersama Tokyo Skytree, maka waktunya pasti sangat spesifik dalam beberapa tahun terakhir. "Ini... foto Gerhana Matahari Cincin, kan?" "Benar sekali. Seperti yang diharapkan dari Ryuuichi-kun." "Apa jangan-jangan, ini Sayuki-san yang—" "Ayahku yang memotretnya. Tapi, sejak kecil aku suka luar angkasa dan astronomi, jadi aku sering ikut Ayah memotret benda langit." Saat Sayuki-san tersenyum seperti itu, tiba-tiba wajahnya tampak tumpang tindih dengan bayangan 'gadis itu'. Bersamaan dengan itu, pemandangan waktu itu pun turut bangkit kembali. Rasa panas musim panas yang menempel lekat di kulit, angin malam yang membelai pipi, cahaya bintang remang-remang yang menyinari perkemahan yang gelap, bulan yang perlahan-lahan meredup, dan di tengah semua itu, sosok 'gadis itu' muncul secara fantastis sambil tersenyum ke arahku. Dalam ingatanku, sosoknya selalu kabur, seperti melihat melalui teleskop yang tidak fokus. ...Mungkinkah, Sayuki-san orangnya? Mulai dari auranya hingga pengetahuan astronominya, terlalu banyak poin yang terasa cocok. Dengan tangan yang gemetar karena harapan, aku mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan gambar di wallpaper-ku. "Sayuki-san. Apakah pernah melihat ini?" "Hmm? Gantungan kunci, ya?" Itu bahkan bukan foto benda langit, melainkan foto gantungan kunci berbentuk bintang. Hanya sebuah gambar yang kuambil saat benda itu tergeletak di meja kamarku. "Apa Anda... memilikinya?" Harapan kecil itu seketika hancur saat melihat ekspresi bingung di wajah Sayuki-san. "Maaf, sepertinya aku tidak tahu....Apa ini barang yang sangat penting buat Ryuuichi-kun?" "Ya, begitulah. Barangnya ada di kamarku, tapi aku sempat berpikir mungkin ada orang lain yang juga memilikinya... Kalau tidak tahu, tidak apa-apa. Maaf, lupakan saja." Begitu ya, ternyata bukan. Padahal aku pikir akhirnya sudah menemukannya. Aku menyimpan rasa kecewa itu ke dalam saku bersama ponselku, lalu mencoba mengalihkan perhatian kembali ke poster Gerhana Matahari Cincin. "Foto ini benar-benar terambil dengan bagus ya. Aku baru mulai menyukai astronomi saat SD, dan waktu itu fenomena ini sudah lewat. Aku ingat betapa syoknya aku saat tahu kalau kesempatan berikutnya untuk melihat ini di wilayah Kanto baru akan ada ratusan tahun lagi." Sayuki-san, yang tanpa sadar sudah berdiri cukup dekat hingga bahu kami bersentuhan, mengangguk pelan. "Itu pasti menyesakkan, ya. Fenomena astronomi itu banyak yang siklusnya puluhan atau ratusan tahun, jadi tidak bisa sering-sering dilihat dalam satu masa hidup manusia. Rasanya pasti sangat mengejutkan saat menyadari kalau kita melewatkan kesempatan berharga begitu saja." "I-iya. Benar sekali... Ahaha, aku tidak menyangka akan ada orang yang bisa memahami perasaan ini." "Fufu. Aku pun sudah tak terhitung berapa kali melewatkan pertunjukan benda langit. Aku bisa mengerti perasaanmu, Ryuuichi-kun, sampai rasanya ikut sakit." Ini mungkin pertama kalinya aku bertemu seseorang yang begitu nyambung saat diajak bicara. "Kalau mau, boleh kukirimkan data fotonya? Selain yang ini, aku juga punya foto-foto lain yang diambil waktu itu. Kamu mau?" "Benarkah? Mau banget!" "Kalau begitu akan kukirim, boleh minta ID LINE-mu?" Saat obrolanku dengan Sayuki-san sedang seru-serunya, di sudut mataku terlihat sosok Mihare yang berdiri mematung sendirian. Dia mengerucutkan bibirnya tanda tidak senang, dan aku bisa mendengar dia bergumam pelan. "Aah. Makanya, aku kan sudah bilang nggak mau memperlihatkannya." 2 "Maaf ya, aku malah keasyikan ngobrol sama Sayuki-san." "Nggak apa-apa, sih. Dari dulu aku sudah kepikiran kalau kalian berdua pasti bakal nyambung kalau ngobrol." Gara-gara terus-terusan mengobrol dengan Sayuki-san dan membiarkan Mihare merasa seperti obat nyamuk, suasana hatinya jadi buruk. "Benar-benar minta maaf. Nanti aku bakal tebus kesalahanku. Aku bakal traktir Premium Parfait di kafe yang nggak jadi kita datangi hari ini." "Kalau gitu, dimaafkan." Pacarku ini benar-benar gampa—maksudku, anak baik yang jujur. "Tadi kamu memperlihatkan foto gantungan kunci itu ke Onee-chan juga? Kamu masih mencari teman yang kamu temui di perkemahan itu?" Aku memang pernah memperlihatkan foto itu kepada Mihare. Gantungan kunci itu hanya dibagikan kepada peserta acara tertentu, jadi seharusnya tidak banyak orang yang memilikinya. Dulu, aku pernah berharap kalau Mihare lah 'gadis itu', lalu menunjukkan gantungan kuncinya, dan akhirnya malah jadi galau sendiri karena dugaanku meleset. Persis seperti hari ini. "Iya. Aku cuma bertemu dengannya sekali waktu kecil, tapi berkat dia aku jadi menyukai pengamatan bintang dan astronomi. Makanya, aku ingin bertemu sekali lagi untuk berterima kasih..." "Orang itu benar-benar penyelamatmu ya, Ryuuichi-kun. Semoga suatu saat bisa bertemu lagi." Tatapannya yang tulus mendukungku terasa begitu menyilaukan. Ada masa di mana aku optimis kalau terus berkecimpung di dunia astronomi, suatu saat aku akan bertemu dengannya lagi. Tapi aku bahkan tidak tahu nama 'gadis itu', dan wajahnya pun sudah mulai memudar di ingatanku. Sejujurnya, aku sudah hampir menyerah. "Kalau begitu, sampai ketemu di sekolah. Da-daaah!" Sambil melambaikan tangan ke arah Mihare, aku naik lift, melewati lobi apartemen yang mewah, mengangguk sopan pada resepsionis, lalu keluar. Aku menghela napas lega karena bisa lolos dari 'alam liar' bernama rumah pacar. Perasaanku saat ini persis seperti kru Apollo yang baru saja kembali ke Bumi. Saat sedang asyik dengan perasaan itu, ponsel di saku bergetar hebat. Panggilan suara masuk dari Sayuki-san yang baru saja bertukar akun denganku. "Ya, Halo?" 『Baru berpisah sebentar ya.』 "Ada apa? Apa ada barangku yang tertinggal?" 『Aku cuma ingin bicara sebentar....Sekarang aku lagi di balkon, apa kelihatan dari sana? Sini, sini!』 Aku berbalik dan mendongak ke arah apartemen mewah yang baru saja kutinggalkan. Kalau tidak salah di lantai paling atas... ah, itu dia. Ada sosok yang melambai-lambaikan tangan dari balkon seolah tubuhnya mau jatuh. Itu Sayuki-san. Tidak salah lagi. Aku membalas lambaian tangannya dan menjawab, "Kelihatan kok." "Jadi, ada keperluan apa?" 『Anu, ada hal yang ingin kukatakan rahasia dari Mihare... tapi, mmm, bagaimana ya cara bilangnya.』 Bicaranya terdengar ragu-ragu. 『Langsung saja ya. Sebenarnya, aku adalah Asada Mihare dari masa depan, yang sedang menjalani kehidupan putaran kedua.』 "..." 『Jiwa Asada Mihare dari masa depan kembali ke masa lalu, dan terlahir kembali sebagai kakak kembar Mihare, itulah aku yang sekarang. Makanya, aku sudah tahu tentang Ryuuichi-kun sejak dulu sekali.』 "Hee, begitu ya. Hebat banget." 『Ih. Suaramu itu kedengaran banget kalau kamu nggak percaya, kan?』 "Yah, memangnya di saat seperti ini aku harus bilang apa? Apa aku harus bereaksi berlebihan kayak komedian? Atau mending aku kasih sindiran kayak, 'Memangnya kamu kucing robot dari masa depan'?" Aku memang payah dalam berkomunikasi. Kupikir kalau dengan Sayuki-san yang sama-sama suka astronomi aku bisa bicara lebih lancar, tapi ternyata hal yang tidak biasa tetaplah sulit. 『Yah, wajar sih kamu nggak langsung percaya dengar cerita begini. Kalau begitu, sebagai bukti kalau aku datang dari masa depan, aku akan memberimu satu ramalan.』 "Ramalan?" 『Jumat depan, ada acara pengamatan rutin klub astronomi di atap sekolah, kan? Saat itu, tiba-tiba hujan akan turun dan acaranya dibatalkan. Aku sudah mengalaminya di masa depan, jadi ini pasti benar.』 "Padahal ramalan cuaca buat Jumat malam itu cerah banget, lho. Kemungkinan hujannya nol persen." 『Yah, nantikan saja.』 Rasanya seperti Sayuki-san memberiku kedipan mata. Setelah itu, telepon pun terputus. Sepertinya Sayuki-san sudah masuk ke dalam kamar, karena sosoknya tidak terlihat lagi di balkon. Apa-apaan sih tadi itu, leluconnya aneh banget. Sayuki-san, kakaknya Mihare. Dia cantik, tapi benar-benar orang yang sulit dimengerti. Di atas apartemen mewah itu, Bulan bertahta seperti seorang ratu, memandang rendah ke arahku. Kapten Armstrong, bagiku rumah gadis itu ternyata benar-benar dunia yang tak dikenal, sama seperti permukaan bulan. 3 Acara pengamatan klub astronomi diadakan dua kali sebulan, pada malam sebelum hari libur. Meskipun wajib mengajukan izin sebelumnya, kami bisa masuk ke atap sekolah yang biasanya tertutup, bahkan bisa menginap di sekolah sampai pagi. Acara yang tidak biasa ini memberiku sedikit rasa bangga yang istimewa. Matahari telah tenggelam sepenuhnya di ufuk barat, dan di atas kepala, bintang-bintang mulai bersinar dengan indahnya. Acara pengamatan di atap sekolah biasanya berlangsung semalam suntuk, dari senja hingga sebelum fajar keesokan harinya. Meski begitu, bukan berarti kami terus-menerus menatap langit. Waktu pengamatan utama adalah saat senja dan fajar, sementara rentang waktu antara pukul sepuluh malam hingga jam dua dini hari digunakan untuk waktu tidur singkat. Sebenarnya, jika hanya ingin mengamati benda langit, tidak perlu terpaku pada waktu senja dan fajar. Namun, karena suatu alasan, aku sudah lama mengincar waktu-waktu ini. "Akhir-akhir ini cuacanya benar-benar pas buat pengamatan ya." Ujar Inou-sensei, pembina klub astronomi, yang sedang duduk santai di kursi lipat outdoor di atap. Mata pelajaran yang diampunya adalah Fisika. Rambutnya selalu berantakan dan dibiarkan panjang hanya karena dia malas memotongnya. Karena dia selalu memakai jas laboratorium putih, penampilannya mirip mad scientist, tapi dia bukan orang mencurigakan—seharusnya begitu. "Musim panas kemarin rasanya kayak neraka. Panas, banyak serangga, dan matahari tenggelamnya lama banget." Sambil mengobrol, tiba-tiba sebuah botol minuman dingin ditempelkan ke pipiku. "Ini, Ryuuichi-kun. Udah agak sejuk sih, tapi jangan lupa minum ya. Terus maaf, Yuria bilang dia absen hari ini karena staminanya habis buat latihan klub lari." "Oh, aku sudah dapat kabar darinya kok, jadi nggak apa-apa." Yuria yang dimaksud adalah anggota klub astronomi lainnya, Kunitomo Yuria. Dia teman masa kecil Mihare, dan mereka sangat akrab sampai-sampai saat ini pun masih berada di klub lari yang sama. "Maaf banget ya. Yuria belakangan ini lagi fokus banget ke sana karena kompetisi lari sudah dekat." "Nggak masalah, kan dia cuma anggota titipan di sini, jadi boleh saja kalau mau libur. Lagipula, kamu sendiri boleh absen kok kalau memang ada kompetisi." "Kalau aku sih, mau berusaha jungkir balik kayak gimana pun rekor lariku nggak bakal berubah... Lagipula, sebelum jadi anggota klub astronomi, aku kan pa-pacarmu, Ryuuichi-kun!" ...Dibilang begitu dengan wajah yang memerah padam, aku pun jadi ikut merasa malu. Keheningan yang canggung sempat menyelimuti kami sesaat, sebelum Mihare bersuara lantang untuk mencairkan suasana. "Ka-karena Yuria nggak ada, camilannya dimakan sepuasnya saja ya! Mungkin nggak seberapa sih kalau dibanding yang beli di toko, karena ini buatanku sendiri..." Di atap, selain teropong bintang dan kamera DSLR yang wajib ada, tersedia juga meja dan kursi lipat masing-masing. Di atas meja tertumpuk berbagai kantong camilan, termasuk yang dibuat sendiri oleh Mihare. Kue kering dalam bungkusan cantik itu tampilannya sama sekali tidak kalah dengan buatan toko. "Nggak mungkinlah. Aku selalu bersyukur setiap kali kamu buatkan." Kue jahe keahlian Mihare sudah menjadi pendamping setia saat pengamatan bintang. Dia juga tak pernah lupa membawanya setiap kali kami berkencan. "Ehehe, kalau gitu aku senang. Soalnya cuma ini yang bisa kubantu... Sampai sekarang aku masih nggak paham soal pengaturan kamera." Mihare memelototi kamera DSLR yang terpasang di tripod menghadap langit barat, seolah sedang menatap lembar soal ujian. "Memotret bintang itu caranya beda banget sama foto biasa. Harus pakai eksposur lama, pakai remote cord, sampai mengatur lensa ke 'infinity'." "Ah, pengaturan infinity itu pernah kamu ajarkan tempo hari ya? Itu buat memotret benda yang jauh banget dengan memutar angka di lensa, kan?" "Yah, bisa dibilang begitu." Infinity. Secara fisika, itu merujuk pada tempat yang sangat jauh hingga gravitasi tidak lagi mencapainya. Namun dalam istilah kamera, itu berarti pengaturan fokus untuk objek yang letaknya sangat jauh. "Jadi, gimana kondisi langit hari ini? Kali ini bakal ketemu nggak?" "Nggak bakal sesusah ini kalau mencarinya segampang itu." Jawabku sambil tersenyum kecut. Aku mengarahkan pandangan ke langit barat. Matahari sudah benar-benar hilang. Alasanku terus melakukan pengamatan saat senja dan fajar adalah untuk menemukan komet baru yang belum ditemukan oleh siapa pun. Komet akan semakin terang saat mendekati matahari. Karena itu, waktu terbaik untuk mengamatinya adalah setelah matahari terbenam saat sisa cahaya masih ada, atau sebelum fajar saat matahari mulai terbit. Faktanya, sebagian besar penemuan komet dalam sejarah terjadi sebelum fajar. Jika menemukan komet baru, nama penemunya akan disematkan pada komet tersebut. Itu adalah impian setiap astronom amatir. Demi mewujudkan impian itu, aku menetapkan jam kegiatan klub astronomi pada waktu-waktu di mana komet baru paling mungkin ditemukan. "Tenang saja, Ryuuichi-kun pasti bisa menemukannya kok." "Meskipun sekarang lembaga penelitian sudah menyisir area luas di luar angkasa sekaligus, jadi peluang buat amatir menemukan sesuatu itu kecil banget. Mungkin butuh waktu seumur hidup..." "Tapi kan nggak nol persen? Kalau gitu jangan menyerah. Aku bakal terus mendukungmu sampai ketemu!" Meskipun terdengar seperti semangat olahraga yang klise, keceriaan Mihare ini sungguh memberiku kekuatan. Ekspresi itu entah mengapa mengingatkanku pada 'gadis itu'. Sosok yang kucari dengan lebih gigih daripada komet tak dikenal, namun sama sekali tak bisa kutangkap bayangannya. Aku buru-buru menggelengkan kepala untuk mengusir bayangan itu. Ah, aku melakukannya lagi. Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk berhenti menyamakan Mihare dengan 'gadis itu'. Sampai kapan aku mau terperangkap dalam kenangan? Aku ini bukan satelit buatan yang tak bisa lepas dari gravitasi bumi, jadi aku harus segera melepaskannya. Aku menyemangati diriku sendiri dan kembali menatap Mihare. "Baiklah, ayo kita mulai pengamatan hari ini." "Yah, kayaknya bakal agak susah nih." Suara malas Inou-sensei menyiram semangatku yang baru saja terkumpul. "Lihat tuh, awannya tiba-tiba muncul." Inou-sensei, yang mulutnya penuh remah camilan, mendongak ke langit. Aku mengikuti arah pandangannya. Tanpa kusadari, tirai awan tebal telah menutupi langit berbintang. "Eh, bohong kan? Bukannya ramalan hari ini cerah?" "Harusnya sih cerah. Mungkin cuma awan lewat di sekitar sini saja, paling sebentar lagi juga—" Harapan itu seketika hancur oleh setetes air yang jatuh tepat di hidung mancung Mihare. "Ah." Mihare refleks memegang ujung hidungnya. Detik berikutnya, hujan deras mengguyur kami seolah-olah mengikuti komando tetesan pertama tadi. "Gawat! Alat-alatnya! Amankan alat-alatnya!" Di tengah kepanikan karena hujan badai yang tiba-tiba, kami bergegas mengangkut peralatan pengamatan ke dalam gedung sekolah. Ketika semua peralatan berhasil diamankan, kami sudah basah kuyup seolah-olah baru saja melakukan latihan renang dengan pakaian lengkap. "Wah, basah banget. Sampai pakaian dalamku juga ikut basah." Mihare menarik kerah seragamnya yang menempel ketat di tubuh, lalu mengintip ke dalamnya dengan wajah merengut. Pada saat itu, aku tanpa sengaja melihat setetes air mengalir dari tengkuknya, meluncur melewati tulang selangka seperti sebuah perosotan, dan tersedot ke dalam celah di antara sedikit tonjolan di bawah sana. Saat mata kami bertemu, aku baru tersadar bahwa aku sedang memandangi dirinya tanpa sopan santun sama sekali. "A-ah, i-itu..." Gawat, aku benar-benar melakukannya tanpa sadar. "...R-Ryuuichi-kun. Malu, tahu. Jangan dilihat terus dong." Mihare yang pipinya merona merah menyilangkan kedua tangan di depan dada, menyembunyikan pakaian dalamnya yang sedikit menerawang. "Ma-maaf!" Begitu aku buru-buru membalikkan badan, sebuah kain putih yang lembut disampirkan ke wajahku. "Ini, keringkan badanmu pakai handuk. Bahaya kalau sampai masuk angin." Suasana yang hampir menjadi canggung itu terselamatkan oleh pembawaan santai Inou-sensei. Setelah mengelap kepala dan pakaian seadanya dengan handuk itu, aku segera menghampiri teleskop yang masih basah. "Mihare, maaf. Bisa tolong lap kamera yang ini juga?" Sambil menyeka tetesan air pada teleskop, aku menyerahkan kamera yang basah kepada Mihare. "A-ah, iya! G-gini benar, kan?" Mihare mengelap kamera DSLR itu dengan hati-hati. "Iya, begitu. Makasih ya. Ini barang presisi, jadi kita harus benar-benar hati-hati sama air." Setelah selesai menyeka air dari semua peralatan dengan cepat, barulah aku bisa bernapas lega. "Nah, kalau dibiarkan begini kalian bisa kedinginan. Gimana kalau kalian pakai ruang shower saja buat menghangatkan badan?" "Eh, bolehkah?!" Mendengar saran Inou-sensei, mata Mihare langsung berbinar. "Lagipula nggak ada orang lain. Saya juga sering pakai kalau lagi lembur. Lumayan bisa hemat biaya listrik dan air di rumah." Apa itu benar-benar tidak apa-apa? Setelah mengembalikan peralatan ke ruang klub dan menguncinya rapat-rapat, kami menuju ke ruang shower. Namun, hari ini benar-benar hari yang sial. Saat mengadakan pengamatan, tentu saja aku selalu waspada terhadap hujan. Hari ini pun aku sudah memeriksa radar awan hujan sebelumnya, tapi malah kena hujan badai lokal yang tiba-tiba. Benar-benar sial. Seolah-olah awan hujan itu sengaja datang hanya untuk membatalkan pengamatan hari ini. ...Hujan, ya? Ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku. Tapi perasaan janggal yang kecil itu segera hilang tertelan suara Mihare yang memanggilku. 4 Di gedung tambahan tempat berkumpulnya ruang-ruang klub olahraga, terdapat ruang shower yang sederhana. Katanya, setelah latihan selesai, para anggota klub olahraga akan mengantre di sini untuk membasuh keringat masa muda mereka. Bagi klub kecil non-olahraga dengan hanya tiga anggota seperti klub astronomi, ini adalah tempat suci yang tak tersentuh. Sejujurnya, aku sedikit mendambakan bisa masuk ke ruang shower ini. Rasanya agak mendebarkan. Namun, saat Inou-sensei menunjukkan wajah menyesal ke arahku, aku langsung mendapat firasat buruk. "Ah, maaf ya, Shibukawa-kun. Dengan ID guru milik saya, saya bisa membuka akses ruang shower perempuan, tapi untuk yang laki-laki saya tidak punya aksesnya. Maaf banget, tapi bisa tolong tunggu sebentar?" Ah, iya, iya. Jadi aku tidak bisa masuk ya. Ternyata meskipun guru, mereka tetap tidak bisa masuk ke ruang shower lawan jenis. Wajar saja sih, tindakan pencegahan seperti itu memang harus diambil untuk menghindari kejadian yang aneh-aneh. Kesadaran kepatuhan sekolah kami ternyata tinggi juga, baguslah. "Kalau begitu, maaf ya, Ryuuichi-kun. Aku selesaikan cepat-cepat kok." Begitulah, aku akhirnya harus menunggu sampai sesi mandi mereka selesai. Aku menatap ke luar jendela; awan hujan masih betah menggantung di sekitar sini, terus meneteskan gerimis meski tidak terlalu deras. Karena cuacanya tidak mendukung, mungkin sebaiknya hari ini kami bubar saja. Aku melamun sambil memerhatikan tetesan air di kaca jendela yang perlahan mengalir turun. 『Jumat depan, ada acara pengamatan rutin klub astronomi di atap sekolah, kan? Saat itu, tiba-tiba hujan akan turun dan acaranya dibatalkan. Aku sudah mengalaminya di masa depan, jadi ini pasti benar.』 Pada saat itulah, aku akhirnya teringat kata-kata Sayuki-san dan seketika merinding. Apa yang dikatakannya benar-benar terjadi. Padahal kemungkinan hujan adalah nol persen. Di saat yang sama, ponsel di sakuku bergetar, membuat seluruh tubuhku tersentak kaget. Melihat layarnya, aku terkejut untuk kedua kalinya. Dengan ujung jari yang gemetar, aku menekan tombol jawab. 『Tuh, kan? Hujan, kan?』 Sayuki-san langsung berujar dengan suara bangga sebagai kalimat pembuka. 『Sekarang, Mihare pasti lagi di ruang shower, ya? Ryuuichi-kun ditinggal sendirian. Kasihan banget. Fufu.』 "Anda... sudah tahu?" 『Kan sudah kubilang, aku ini Mihare dari putaran kedua.』 Aku tidak bisa lagi tertawa meremehkan seperti sebelumnya. 『Yah, bicara lewat telepon rasanya kurang sreg, jadi ayo kita bicara tatap muka. Aku nggak mau ini terdengar oleh Mihare, jadi datanglah ke ruang santai di lantai 1 gedung utama. Aku tunggu di sana.』 Mengikuti instruksi itu, aku meninggalkan gedung tambahan tempat ruang shower berada dan kembali ke gedung utama. Ruang santai yang biasanya ramai oleh celoteh murid-murid saat jam istirahat itu kini kosong melompong, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Hanya ada satu orang yang duduk di bangku panjang, yaitu Sayuki-san. Menyadari kedatanganku, Sayuki-san memberi isyarat tangan agar aku duduk di sampingnya. "Sekarang, apa kamu sudah percaya kalau aku ini Mihare dari putaran kedua?" Sayuki-san yang tersenyum bangga itu memang mirip dengan Mihare. Bukan secara fisik, tapi lebih ke auranya. Namun, aku tidak bisa membedakan apakah itu karena mereka memang orang yang sama atau sekadar karena mereka kembar. "Masih antara percaya dan nggak percaya, sih. Mungkin perbandingannya 1% percaya, 99% ragu. Begitulah kira-kira." "Kalau begitu, gimana kalau kutunjukkan 1 bukti lagi? Di acara pengamatan atap hari ini, Mihare bawa kue jahe buatan sendiri lagi, kan?" "Iya, benar. Tapi itu kan bukan rahasia atau apa pun—" "Tiap kali bertemu Ryuuichi-kun, dia selalu buat dan bawa kue itu, padahal sebenarnya itu merepotkanmu kan? Maaf ya. Kamu sebenarnya nggak suka, kan? Kue jahe." "Mana mungkin. Aku suka, kok. Manisnya pas dan enak dimakan. Buatku, rasa segitu sudah cukup—" Sayuki-san tersenyum sedih. "Bohong. Saat kencan pertama dulu, karena ingin menjaga perasaannya, kamu memuji kue yang dibawa Mihare dengan bilang 'Rasanya enak banget sampai aku ingin makan tiap hari'. Mihare menganggapnya serius dan terus membuatnya sampai sekarang, sementara kamu jadi nggak enak hati buat menolaknya, kan?" "......" "Sebenarnya kamu lebih suka yang manis seperti choco chip, kan? Maaf ya, karena prasangka kalau anak laki-laki lebih suka yang nggak terlalu manis, aku jadi cuma buat kue jahe terus." Saat pertama kali pergi bersama Mihare, dia menyodorkan wadah plastik berisi kue jahe. Saat aku menggigitnya, aroma jahenya terasa cukup kuat dan agak aneh di lidahku. Tapi melihat wajah Mihare yang menatapku cemas dengan tangan gemetar memegang wadah itu, aku tidak tega mengatakan yang sebenarnya. Sejak saat itu, terus, dan terus, aku tidak pernah bisa mengatakannya. Pikirku, ini cuma masalah aku harus sedikit bersabar saja. Ini adalah kebohongan kecil demi kelancaran hubungan kami. Mendengar isi kepalaku ditebak dengan telak oleh Sayuki-san, aku merasa sangat tidak nyaman. "Maaf karena sudah membuatmu terus-terusan menjaga perasaanku. Saat itu, aku terlalu terobsesi ingin jadi pacar ideal versiku sendiri sampai aku sama sekali tidak memerhatikanmu, Ryuuichi-kun." "...Kenapa Anda bisa tahu kalau aku nggak suka kue jahe?" "Karena Ryuuichi-kun yang memberitahuku di masa depan." Alasan mengapa Sayuki-san tahu apa yang akan terjadi dan apa yang aku sembunyikan. Karena dia menjalani hidup untuk kedua kalinya. Rasanya sangat konyol dan tidak realistis, tapi aku terpaksa meyakininya. "Katakanlah aku menerima penjelasan itu, lalu untuk apa Anda kembali ke masa lalu?" Mendengar pertanyaanku, Sayuki-san menatap balik ke mataku dengan tatapan yang jernih. Matanya seperti bola kristal peramal yang bisa melihat masa depan sekaligus hatiku, membuat jantungku berdegup kencang. Sayuki-san perlahan mencondongkan tubuhnya ke arahku. "......Jadikan aku pacarmu, Ryuuichi-kun." Untuk sesaat, aku tidak bisa mencerna apa yang dikatakannya. "Tu-tunggu dulu! Aku... sekarang sedang pacaran dengan Mihare!" Mendengar jawabanku yang terbata-bata, Sayuki-san terkekeh pelan. "Nggak apa-apa, kan? Kita bisa pacaran diam-diam tanpa sepengetahuan Mihare." "Itu artinya, maksudnya..." Aku menelan kata yang hendak kuucapkan. Sebab jika aku mengucapkannya, rasanya itu akan menjadi kenyataan. Namun Sayuki-san dengan santainya melontarkan kata yang tertahan di tenggorokanku itu. "......Selingkuh?" Mendengar gema kata yang penuh dosa dan asusila itu, punggungku terasa merinding seolah-olah baru saja ditelusuri oleh jari telunjuk seseorang. Sayuki-san tertawa lagi. "Tenang saja. Aku kan juga 'Mihare'. Bagimu, aku ini pacarmu dari putaran kedua, jadi nggak bakal dihitung selingkuh, kan?" "M-meskipun Anda bilang begitu, aku nggak bisa langsung bilang 'oh benar juga ya'!" Aku mencoba sekuat tenaga membangkitkan logikaku yang hampir hanyut untuk membantah, namun Sayuki-san justru menempelkan jari telunjuknya ke pipi dengan wajah bingung. "Hmm, keras kepala ya. Kalau begitu, jangan anggap sebagai pacar resmi, anggap saja aku ini pacar untuk latihan?" Apa katanya tadi? Pacar untuk latihan? "Kalau denganku, aku bisa memberimu saran tentang apa yang harus dilakukan agar 'Mihare' senang, atau sebaliknya, hal apa yang dia benci. Bukankah itu tawaran yang bagus buatmu, dan juga buat 'Mihare' yang sekarang? Kita berdua untung, kan?" "Nggak, meski Anda bilang begitu, bagi saya Anda tetaplah kakak perempuan Mihare!" "Padahal aku bisa mengajarimu banyak hal 'bagus' lainnya sampai kamu melupakan status itu, lho?" Sambil berkata begitu, Sayuki-san mencondongkan tubuhnya ke arahku. Karena dia sedikit membungkuk, dadanya yang tertarik gravitasi tampak bergelayut seperti buah pir yang ranum. Mungkin ini sudah takdirku sebagai keturunan kaum agraris, pandanganku seolah lengket dan tak bisa lepas dari 'buah' yang tumbuh subur itu. Berbagai imajinasi liar melintas di benakku bagaikan lentera ajaib. "Hal bagus itu... anu, maksudnya... apa?" Mulutku kering kerontang karena gugup. Aku sendiri tidak tahu jawaban seperti apa yang sebenarnya kuharapkan. Namun, jawaban yang keluar dari bibir ranum Sayuki-san benar-benar berbeda dari dugaan maupun harapanku. "Tentu saja... hal yang berkaitan dengan impianmu." "Eh?" Seketika itu juga, imajinasi liarku menguap sirna. "Ryuuichi-kun ingin menemukan komet baru, kan? Karena pikiranmu penuh dengan cara mewujudkan impian itu, kamu jadi tidak bisa serius dengan hubungan cintamu yang sekarang. Benar, kan?" ...Benar. Aku memang berpacaran dengan Mihare setelah dia menyatakan cintanya padaku, tapi hubungan kami sama sekali tidak mengalami kemajuan. Itu karena aku memiliki impian nekat yang aku sendiri tidak tahu apakah bisa terwujud seumur hidupku. Tanpa sadar, aku selalu memprioritaskan impian itu. "Tapi... itu cuma alasan saja, kan?" "A-alasan apa maksud Anda?" Suaraku melengking. Bukan cuma soal kue jahe, kenapa dia bisa tahu sampai sejauh itu? "Menemukan komet sebagai impian memang terdengar sangat indah dan romantis, tapi itu bukan impian yang sebenarnya bagi Ryuuichi-kun." Padahal aku tidak pernah mengatakannya pada siapa pun. Padahal aku selalu menyembunyikannya. Yang sebenarnya kucari bukanlah komet, melainkan... Aku tidak berani menatap langsung Sayuki-san yang tersenyum di dalam kegelapan. Sampai sedalam apa orang ini mengenalku? Dengan matanya yang jernih dan indah itu, apakah dia bisa melihat sisi diriku yang bahkan aku sendiri tidak tahu? "Yang selama ini kamu cari adalah anak perempuan yang kamu temui di perkemahan saat liburan musim panas SD, kan? Anak yang saat itu melihat gerhana bulan bersamamu dan mengajarimu banyak hal tentang luar angkasa—cinta pertamamu." C-cinta pertama... bukan hal seperti itu. Kata-kata itu tertahan di tenggorokanku dan berusaha kutelan kembali. Meski aku mengatakannya pun, tidak mungkin ada yang percaya. Sayuki-san melanjutkan bicaranya. "Kamu berpikir jika berhasil menemukan komet tak dikenal, kamu mungkin bisa bertemu lagi dengannya, kan? Alasan kenapa kamu memilih lokasi kemah untuk kegiatan klub astronomi di tempat pertemuan kalian dulu juga karena kamu berharap bisa bertemu kembali, kan?" Semua rahasia yang ia tebak dengan tepat membuatku merasa seperti ditelanjangi bulat-bulat. Punggungku gemetar karena ngeri. "Kenapa... Anda bisa tahu?" "Itu juga karena Ryuuichi-kun yang memberitahuku....Saat kita putus dulu." Pada saat itu, secercah kesedihan bergetar di mata Sayuki-san. "Kamu minta maaf padaku karena terus mengejar bayangan anak itu. Yah, alasan kita putus bukan cuma itu saja, sih. Aku pun juga bersalah karena terlalu terpaku pada konsep ideal bagaimana seorang pacar seharusnya bersikap, sampai aku tidak benar-benar melihat Ryuuichi-kun. Itulah kenapa kita terus-terusan berselisih paham." Hanya pada momen itu, tatapan Sayuki-san yang menatapku tampak menerawang jauh. Saat ini, fokus matanya sedang tertuju pada masa lalu bagi dirinya—dan masa depan bagiku. "Tapi, kalau dibiarkan begini, kamu dan Mihare yang sekarang pun akan berakhir putus. Ini bukan sekadar tebakan, tapi sejarah yang benar-benar kualami di putaran kedua hidupku." Tak lama kemudian, pandangan Sayuki-san kembali padaku yang ada di dunia nyata. "Makanya, jadikan saja aku tempat latihan pacaranmu, nggak apa-apa, kan? Toh bagi kamu, Mihare yang sekarang pun hanyalah pengganti untuk anak cinta pertamamu itu." "N-nggak benar! Aku nggak bermaksud begitu!" Suaraku yang menyahut dengan cepat terdengar sangat goyah, bahkan bagi diriku sendiri. Itu karena ucapannya tepat sasaran. Aku tidak bermaksud menjadikan Mihare sebagai barang pengganti 'gadis itu'. Namun, aku juga tidak bisa membantah kalau selama ini aku selalu membayangkan sosok 'gadis itu' dalam diri Mihare. Melihatku yang mengerang dalam dilema, Sayuki-san menyelimutiku dengan senyumannya. "Fufu, maaf ya sudah bicara yang jahat-jahat. Tapi, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ryuuichi-kun juga merasa tersiksa, kan? Tenang saja. Aku yang akan menyelamatkanmu." "Bagaimana caranya?" "Sebenarnya tahun ini, akan ada komet baru yang ditemukan oleh astronom amatir. Aku tahu waktu, arah munculnya komet itu, semuanya." Bagi seorang pemburu komet, itu adalah informasi yang terlalu menggiurkan. "Kamu bisa menemukan komet tak dikenal itu dan memberinya nama. Itu akan menjadi berita besar di dunia astronomi amatir. Dengan begitu, kamu mungkin bisa bertemu lagi dengan cinta pertamamu, atau mungkin pada akhirnya tetap tidak bertemu. Bagaimanapun hasilnya, itu akan menjadi titik balik yang bagus untuk merelakan kenanganmu, kan?" Mendengar itu, ada benarnya juga. Jika 'gadis itu' masih menyukai astronomi seperti dulu, dia tidak mungkin melewatkan berita tentang siswa SMA yang menemukan komet baru. Jika setelah aku menemukan komet pun aku tetap tidak bisa bertemu dengannya, itu adalah bukti bahwa dia bukan lagi 'gadis itu' yang kukenal. Jika sudah begitu, aku akhirnya bisa memberikan titik penutup pada perasaan ini—yang aku sendiri tidak tahu apakah bisa disebut cinta pertama. Jika aku terus terbayang-bayang 'gadis itu', aku tidak akan bisa menghadapi Mihare dengan sungguh-sungguh. Kalau begitu, tawaran Sayuki-san mungkin adalah hal yang kuperlukan untuk melangkah maju. Rasa ngeri menjalar di punggungku saat aku mulai merasa yakin. Bukankah ini semua berjalan persis seperti keinginan Sayuki-san? Namun, aku tidak bisa memikirkan pilihan lain selain menerima tawaran ini. Seolah-olah ingin memberikan serangan penentu, Sayuki-san bersandar padaku sehingga lengan atasku terjepit di antara dadanya yang montok. Aku seolah bisa mendengar efek suara "mnyu". Dikelilingi oleh dua 'buah' yang ranum itu, aku merasa sensasi di lenganku perlahan meleleh. Persis seperti saat berendam di air hangat. "Sa-Sayuki-san, i-ini terlalu dekat!" Bertolak belakang dengan ucapanku, hasrat ingin menempel lebih erat justru tak terbendung. Seolah tahu bahwa penolakanku tidak tulus, Sayuki-san tetap diam dengan senyum yang menggoda. Dan seakan menjawab harapanku, dia perlahan menjatuhkan berat badannya ke arahku. Tekanan dari dada lembut yang menempel di lenganku semakin terasa, mengubah bentuknya seperti kue moci yang baru saja ditumbuk. Gedung sekolah yang sepi terasa sangat sunyi, hingga suara sekecil apa pun bisa terdengar. Debaran jantungku yang berdegup kencang terdengar sangat keras, seolah berbunyi tepat di telingaku. Selain itu, telingaku tidak bisa lagi mendengar apa pun. Bibir Sayuki-san mendekat perlahan ke telingaku. Dengan nada suara yang manis hingga membuat bulu kuduk berdiri. "Nanti, soal cinta pertamamu maupun soal Mihare... aku akan membuatmu melupakan semuanya." Previous Chapter | ToC | Related Posts * * * *

Kanojo no ane wa 2-shu-me no kanojo V1 Chapter 1 Penerjemah: Taksaka Proffreader: Manahan Chapter 1 Tempat yang Lebih Dekat Sekaligus Lebih Jauh dari Bulan 1 Neil Armstrong, komandan Apollo 11...

#Kanojo #no #ane #wa #2-shu-me #no #kanojo

Origin | Interest | Match

0 0 0 0
Photograph of a caribou fursuiter walking through sunny Boston

Photograph of a caribou fursuiter walking through sunny Boston

Feeling positively glowing today

📸 @linglingfennec.bsky.social
#FursuitFriday #Fursuit #ANE

30 2 0 0
Post image

It lowkey looked better before I colored it, but alas...at least I finally finalized this, wiiฅ⁠^⁠•⁠ﻌ⁠•⁠^⁠ฅ★

#blueexorcist #aonoexorcist #aoex #ane #mephistopheles #mephisto #samael #art #traditionalart #fanart

1 0 0 0
Post image

Shout out to @jackgoose.bsky.social for capturing my good side at #ANE

17 4 1 0
Post image Post image

Happy 22/2!ฅ⁠^⁠•⁠ﻌ⁠•⁠^⁠ฅ<3

#blueexorcist #aoex #ane #aonoexorcist #mephistopheles #mephisto #samael #cat #art #traditionalart

4 1 0 0
Milø the g-shep partial fursuiter stands in a gray hoodie and blue jeans with a blepped tongue and muzzle next to a fullsuited Sven Fennec, who is standing with his head thrown back and a hand held up.

Milø the g-shep partial fursuiter stands in a gray hoodie and blue jeans with a blepped tongue and muzzle next to a fullsuited Sven Fennec, who is standing with his head thrown back and a hand held up.

It's the photo fox @svenfennec.bsky.social himself, accompanied by partner-in-crime @milogshep.bsky.social! Looking great together at #ANE, even if I'm late uploading for #FursuitFriday! #fursuit #furry #photography

18 2 0 0
Post image

The cutest curl rounds the corner! Hope all the other cuties have a great weekend! (hint: its everyone)

#FursuitFriday #ANE #ANE2026

📸 @linglingfennec.bsky.social

32 1 0 0

: Future Forecast :

Allergy season is about to go HAM in the Atlantic NorthEast #ANE

#Pollen alert for Spring 2026.

⚠️ 😺👍

0 0 0 0
Citro the lemon fox fursuiter stands posing with authority and poise, looking down at us coyfully with hands on hips. They have a pink strap harness and muzzle, a pink fanny pack, a blue blepped tongue, a badge, and a silver bell hanging from their collar. Other furries can be seen in the background.

Citro the lemon fox fursuiter stands posing with authority and poise, looking down at us coyfully with hands on hips. They have a pink strap harness and muzzle, a pink fanny pack, a blue blepped tongue, a badge, and a silver bell hanging from their collar. Other furries can be seen in the background.

"How tall are they?"
This tall!
#furry #fursuit #ANE #lemon #fox

7 1 0 0
Post image

Yo, I'm alive.✌️ Alive and sketching✏️ (Also, wishing a happy [early] Valentine's Day to everyone!🫶)

#blueexorcist #aonoexorcist #aoex #ane #mephistopheles #mephisto #samael

2 0 0 0
Photograph of a caribou fursuiter walking down a downtown street, captured in mid-stride looking down at the ground in front of him

Photograph of a caribou fursuiter walking down a downtown street, captured in mid-stride looking down at the ground in front of him

Makin my way downtown, walking fas- ooh look a penny!

#Fursuit #FursuitFriday #ANE
📸 @accordionfox.bsky.social

21 3 0 0
Post image

MY CHILD
#furry #ane #fursuit #cute

3 1 0 0
Preview
W.A.Y.S

MusicChallenge #ANE
🎵🎧🎤🎹🥁
Chill Vibes that Merlot & I Enjoy

Day 6:
open.spotify.com/track/1cQAgq...

1 0 0 0
Post image

The snow beaans
#furry #fursuit #ane #snow

6 0 0 0
Video

Secret and Strange Angel.
🪽😈𓃶𖤐

#baphomet #demon #ane #latexfur #latex #goat #boston #angel

65 12 2 0
Hope at ANE

Hope at ANE

#FursuitFriday When it’s grey out, bringing whimsy and light to people is so important! ☺️💜💙

Also, streaming VRChat at 8pm Eastern!

twitch.tv/hopecollie

#ane #vtuber #envtuber

23 0 0 0
Cleo the gray fox fursuiter poses for a picture outside a furry convention! They have gray fur, a white belly, black and white 'socks' for their paws, and blue highlight fur around the eyes, on the nose and cheeks, and tips of ears. They look friendly and cute! There are other colorful fursuits in the background.

Cleo the gray fox fursuiter poses for a picture outside a furry convention! They have gray fur, a white belly, black and white 'socks' for their paws, and blue highlight fur around the eyes, on the nose and cheeks, and tips of ears. They look friendly and cute! There are other colorful fursuits in the background.

Happy #FursuitFriday!! Today we have Cleo @kippaws.bsky.social at #ANE! They may be a smol dog/fox, but they have a big spirit!! Photo by me #fursuit #furry #gooddog #photography

40 6 0 0
Post image

Me hanging out with my friend at the bird meet at #ANE2026 birbs chilling🐧🦜 #fury #FursuitFriday #fursuit #fursuiting #penguin #bird #birdfursuit #fursuiter #anthronewengland #ANE26 #ANE

3 0 0 0

The con letting people like them in con space is dangerous(ik they aren’t the only creeps that were at the con there this year) and with the proof of threats I gotten for going to #ANE2026 still didn’t provide a staff member/security for my panel(which they said the would give) #ANE #Furrycon #furry

1 0 0 0

Here’s what I was talking about, I was dealing with these ass whole and speaking the truth about them and have gotten threats from them and their partner. Both Kai/freya/aalto and Wizdum are creeps/predators that need to be kicked out of the fandom #furry #ANE #FurryFandom #anthronewengland

2 0 1 0